LoVe V.S LoGic

LoVe V.S LoGic

LoVe V.S LoGic

 

LoVe V.S LoGic

LoVe V.S LoGic

Aku mempunyai seorang sepupu, yang bernama Ocha. Sudah hampir selama dua tahun, dia mencintai Rengga, temannya. Namun, cinta itu tidak berjalan mulus, dan akhirnya dia pun bertepuk sebelah tangan. Setiap hari, Ocha tidak bisa berhenti memikirkannya. Hingga … entah sejak kapan, Rengga sadar bila Ocha mencintainya. Lalu, setelah itu apa yang terjadi? Rengga menolak Ocha. Tapi, Ocha tidak menyerah. Sampai dia menceritakan love story – nya padaku, dia masih sangat menyayangi Rengga, dan hebatnya … dia masih terus berjuang, memperjuangkan rasa cintanya. Tanpa kenal lelah.
Aku juga pernah mengalami hal yang sama. Aku nggak bisa membedakan lagi apakah yang kulakukan ini bodoh ataukah ungkapan dari sebuah kejujuran. Yang jelas, nasibku pun sama. I am rejected. Tentu saja, aku merasa sakit hati, kecewa, terluka, de el el. Tapi, biarlah. Semua itu sudah lama berlalu. Nah, yang ingin kuceritakan di sini adalah suatu ‘perbedaan’. What’s different? Perbedaan antara aku dan Ocha. Aku yang memilih logika dan Ocha yang lebih mengagungkan cinta.
Mungkin, aku memang cewek yang tak pernah berani mengambil resiko. Selama ini, dapat dibilang aku hanya memilih jalur yang aman saja. Aku tidak berani memperjuangkan makna cinta. Yah, akibatnya … tahulah! Aku nggak pernah memperoleh cinta sejati. Aku terlalu takut untuk mengejar dia. Selain itu, ibuku juga selalu mengajarkan padaku bila ‘wanita itu dipilih, bukan memilih’.
Jadi, sebagai seorang cewek, aku dituntut untuk menjunjung tinggi budaya timur yang lebih mengutamakan aspek kesopanan. Cewek nggak boleh lebih dulu mengejar pria. Setelah itu, dengan susah payah aku berhasil melupakannya. Untuk apa tetap mengejarnya apabila pada akhirnya kita pun tidak bisa memilikinya. Mungkin, kita memang mendapat raga, tetapi tidak untuk jiwanya. Percuma saja! Tentunya, aku akan lebih memilih dicintai daripada mencintai. Karena cinta sepihak itu selalu berada pada posisi yang sangat lemah. Dan, aku sudah merasakannya.
Oh, tapi, jangan khawatir, karena ini cuma pendapatku yang tidak akan bisa mempengaruhi keputusan orang banyak. Keputusan tetap berada di tangan kita, cinta atau logika … hanya hati kita yang bisa memilih. Pikirkan baik – baik, pasti ‘kan kita temukan jalan terbaik.