Waspada Fatamorgana

Waspada Fatamorgana

Waspada Fatamorgana

Waspada Fatamorgana

Waspada Fatamorgana: Rumput Tetangga Selalu Lebih Hijau

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan (kendaraan), binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS Ali ‘Imran [3] : 14).Kadang, kecintaan kita terhadap hal yang diingin. Apalagi terlalu menggebu-gebu, menjadikan kita buta dan tak mampu berpikir jernih. Sehingga muncul rasa tak puas akan segala hal.

“Arti dari ungkapan rumput tetangga lebih hijau” bahwa kita melihat orang lain memiliki kebahagiaan dan kebaikan yang lebih dari apa yang ada pada diri kita. Lalu bagaimanakah seharusnya kita ketika menyikapi kenyataan itu? Haruskah sikap iri, dengki yang kita tunjukan atau sebaliknya, ikut merasa senang melihat tetangga bahagia.

Rumput tetangga tampak lebih hijau, meskipun kenyataannya sama hijau atau kurang hijau dengan rumput kita. Hal itu mungkin karena kita melihatnya dari kejauhan. Jarak sering menipu pandangan manusia. Bulan yang kita lihat indah di malam hari, sinarnya yang kuning keemasan. Tapi sebenarnya bila dilihat dari dekat, hanyalah tanah dan bebatuan tandus yang berlubang-lubang.

Bahwa mungkin orang lain terlihat lebih bahagia, lebih cantik dan lebih tampan dari kita, tetapi ketika kita mengetahui dari dekat kehidupannya, bisa jadi semua hal yang tampak lebih baik itu tidak lebih baik dari yang kita miliki. Bahkan bisa saja hanya polesan dari luar, atau kepura-puraan. Orang yang memiliki mobil mewah dan bergelimpangan harta misalnya, bisa saja semua itu dia dapatkan dengan berhutang, dan dia sama sekali tidak bahagia. Siapa tahu ketika kita lebih dekat dan mengetahui lebih banyak, justru kita akan mengoreksi pandangan kita, dan tersadarlah bahwa kita memiliki kehidupan yang lebih bahagia. Jauh lebih bahagia.

Ataukah memang ada penyakit hati dalam diri kita, nafsu yang meggebu-gebu. Ketamakan. Rasullulah mengingatkan kita agar mewaspadai sifat tamak ini, “Andai kata anak Adam itu memiliki emas satu lembah, niscaya ingin memiliki satu lembah lagi. Tidak ada yang dapat mengisi mulut (hawa nafsu) -nya melainkan tanah (maut). Dan Allah menerima taubat siapa saja yg bertaubat kepada-Nya. (HR Muslim No.1738). Inilah mental yang menghadirkan fatamorgana. Rasa tak pernah puas menyebabkan kita melihat segalanya lebih indah dan selalu ingin memiliki. Hendaknya kita tidak selalu memandang keatas dalam hal dunia, karena diatas langit masih ada langit. Maka seharusnya kita lebih banyak bersyukur kepada Allah SWT, karena masih banyak yang tidak seberuntung kita.

Atau rumput tetangga menjadi tampak lebih hijau bisa jadi karena kita memiliki mental pecundang. Mental pecundang ini berlawanan dengan mental juara. Seseorang yang memiliki mental pecundang, ia punya rasa rendah diri yang berlebihan. Atau inferiority complex. Selalu under estimate terhadap dirinya.

Dalam persaingan, orang yang memiliki mental pecundang, akan tersingkir. Ia akan selalu melihat kompetitornya lebih baik darinya, lalu diikuti dengan rasa pesimis. Kalah sebelum bertanding. Seharusnya tidak begitu sifat orang mukmin.  “Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS Ali ‘Imran [3]: 139)

Kebahagiaan sesungguhnya diciptakan oleh kita sendiri, atas izin Allah kepada setiap hambanya yang memiliki kejernihan hati.  Banyak hal sederhana yang justru merupakan kebahagiaan. Maka yakinlah kepada-Nya. Bersyukur dan katakanlah: “Hidupku, Adalah Hidup Yang Paling Indah.”

 

Sumber : https://filehippo.co.id/