Budaya Menyalahkan yang Berbahaya

Budaya Menyalahkan yang Berbahaya

Budaya Menyalahkan yang Berbahaya

Budaya Menyalahkan yang Berbahaya

Budaya Menyalahkan yang Berbahaya

Ketika sesuatu masalah terjadi di luar harapan kita, kadang kita cenderung menyalahkan orang lain. Misalnya, ada sesuatu barang yang hilang, pasti seseorang telah memindahkannya. Makanan tidak enak, pasti kokinya tidak becus memasak. Sekitar anda kotor, pasti pekerja kebersihan tidak benar bekerja, dan masih banyak hal yang lainnya.

Kebiasaan berpikir “blaming others”  atau “menyalahkan orang lain” ini sudah menjadi hal yang secara tidak sadar ada dalam budaya kita. Dari sisi individu sebagai pribadi, hal ini menunjukkan bahwa kita tidak pernah benar-benar bertanggungjawab terhadap apa yang sudah dilakukan, dari masalah yang kita hadapi dan kebahagiaan kita.

Menyalahkan orang lain akan mengambil sejumlah besar dari energi mental. Ini semacam mind-set “drag-me-down” yang menyeret pada stress dan penyakit. Menyalahkan orang lain membuat kita tidak punya kuasa terhadap hidup kita sendiri karena kebahagiaan kita bertumpu pada aksi dan perilaku orang lain yang tidak bisa kita kontrol.

Ketika kita berhenti menyalahkan orang lain, kita akan mendapatkan kembali kekuatan pribadi. kita akan melihat bahwa kitalah sang pembuat pilihan tersebut. Anda akan tahu bahwa ketika Anda sedih, Anda yang punya peran besar untuk menciptakan perasaan Anda. Artinya, Anda sendiri punya peran kunci untuk menciptakan perasaan baru, yang lebih positif. Kehidupan adalah tantangan besar yang menyenangkan dan akan lebih mudah untuk dikelola ketika Anda berhenti menyalahkan orang lain.

Mereka menjawab: Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami’. Utusan-utusan itu berkata: ‘Kemalangan kamu adalah karena kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu bernasib malang)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampui batas’.” (QS. Yasin 36:18-19).

Janganlah Anda merasa sombong dengan apa yang Anda miliki sehingga Anda tidak mau mengakui kesalahan Anda sendiri. Dan janganlah sombong ketika berhadapan dengan teman-teman karena mereka akan menjauhi Anda. Orang-orang yang tidak mau mengakui kekurangan dirinya, kelak akan menderita berkepanjangan, dunia terasa sempit, dan musibah demi musibah akan menimpanya tanpa ia sendiri mampu menghentikannya.

Berkatalah yang baik atau diam. Ya, kita sebagai manusia memang telah diberikan banyak sekali nikmat oleh Allah SWT termasuk nikmat dapat berbicara. Akan tetapi, banyak yang salah menggunakan nikmat ini. Mereka tidak mengerti bahwa mulut yang telah dikaruniakan oleh-Nya seharusnya dapat dijaga dengan baik dan digunakan hanya untuk kebaikan.

jangan terlalu sibuk mencari kesalahan orang lain, tapi kita tak pernah mencari kesalahan kita… Kita tanpa sadar, mungkin sering menjadikan diri orang lain sebagai sumber cemohan, sumber salah, dll. Namun sedikit sekali menjadikan diri orang lain sebagai cerminan kita untuk melihat apakah kita sudah jadi lebih baik dari orang itu? Kebanyakan kita hanya menjadikan tempat cemohan, tempat untuk menghakimi, tempat untuk menilai karakter seseorang.

Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang beriman kepada Allah, hendaklah ia berkata yang baik atau diam” (Muttafaq ‘Alaihi)   Lalu dalam hadist lain disebutkan: “Allah SWT memberi rahmat keapda orang yang berkata baik lalu mendapat keuntungan, atau diam lalu mendapat keselamatan.” (HR. Ibnul Mubarak)

Walaupun kerusakan moral umat Islam dewasa ini perlu dibicarakan untuk tujuan perbaikan, namun penyingkapannya itu perlu dalam bentuk yang sehat dan dengan perasaan yang penuh kasih sayang serta dengan rasa cemburu terhadap agama, bukan dengan perasaan bangga diri dan memandang rendah kepada orang lain.

Sumber : https://downloadapk.co.id/