UT Fokus Menjadi Universitas Siber

UT Fokus Menjadi Universitas Siber

UT Fokus Menjadi Universitas Siber

UT Fokus Menjadi Universitas Siber

UT Fokus Menjadi Universitas Siber

Rektor Universitas Terbuka (UT), Ojat Darojat, menegaskan tahun ini UT fokus

menguatkan diri sebagai cyber university atau universitas siber. Ojat mengatakan hal tersebut saat dijumpai , Rabu (14/8/2019), terkait dies natalis UT ke-35.

UT, sebagai perguruan tinggi yang dipercayakan menyelenggarakan pendidikan jarak jauh (PJJ), berkomitmen memberi akses untuk anak Indonesia di mana pun berada, dengan biaya yang murah.

UT kini meningkatkan pelayanan PPJ, yakni semua kegiatan operasional UT didukung oleh perangkat lunak, sesuai dengan kebutuhan zaman yang memudahkan semua anak bangsa untuk memperoleh pendidikan tinggi.

“Kami ingin UT padat modal (teknologi,red) bukan padat orang, sehingga

masyarakat dapat menilai UT sebagai perguruan tinggi negeri dengan layanan PJJ yang memadai. Bahkan saat ini UT dipercaya Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi sebagai branchmarking bagi perguruan tinggi dalam penyelenggaraan PJJ,” kata Ojat saat pembukaan kegiatan grand final Pemilihan Duta UT 2020 di Universitas Terbuka.

Ojat menambahkan, peningkatan kualitas layanan tidak hanya menjangkau masyarakat di perkotaan saja, tetapi juga untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T), guna menggerakkan perekonomian bangsa. Pasalnya, kurikulum dan program studi (prodi) yang ditawarkan UT sesuai dengan kebutuhan dan sejalan dengan misi peningkatan SDM.

“Misalnya bagi masyarakat yang membidangi pertanian, dia dapat melanjutkan pendidikan di UT

untuk mengetahui lebih banyak strategi-strategi seperti apa yang dibutuhkan dalam pertanian. Jadi ini menyasar segala aspek,” ujar Ojat.

Ojat menuturkan, dalam menyasar mahasiswa dari daerah 3T, meski pendidikan berbasis pada PJJ, UT juga mendesain kurikulum tatap muka bagi anak bangsa yang belum mampu diakses mengunakan teknologi.

Dijelaskan Ojat, kurikulum tatap muka yang didesain ini berbeda dengan pembelajaran pada perguruan tinggi tatap muka pada umumnya. Jika perguruan tinggi lain menyelenggarkan pertemuan tatap muka sebanyak 16 kali, UT hanya menyediakan waktu pertemuan sebanyak 8 kali.

Selanjutnya, Ojat juga menuturkan, selain memperluas akses, UT juga menyasar calon mahasiwa dari kaum milenial sebanyak 50% untuk setiap tahun ajaran baru. Pasalnya, banyak kaum milenial dari keluarga ekonomi menengah bawah yang tidak menanjutkan pendidikan karena terkendala biaya.

 

Sumber :

https://linda134.student.unidar.ac.id/2019/08/sejarah-siti-fatimah-lodaya.html