Kolecer Dan Candil Tingkatkan Minat Baca Masyarakat

Kolecer Dan Candil Tingkatkan Minat Baca Masyarakat

Pemerintah Provinsi Jawa Barat memberikan perhatian khusus pada hasil survey

yang menyebutkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia masih tergolong rendah

Indeks membaca orang Indonesia hanya 0,001, artinya dari 1.000 orang Indonesia hanya ada satu orang yang memiliki minat membaca buku.

Data ini berasal dari Unesco yang dimuat dalam berita Sragen Pos 07/09/2015. Selain itu, menurut survey Central Connecticut State University di New Britain dalam berita Media Indonesia edisi 30/08/2016 menempatkan Indonesia di peringkat 60 dari 61 negara terkait minat baca.

Oleh karena itu, untuk meningkatkan minat baca masyarakat melalui kemudahan akses informasi dan tempat baca alternatif, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah (Dispusipda) Provinsi Jawa Barat meluncurkan Perpustakaan Jalanan atau dinamakan Kolecer (Kotak Literasi Cerdas) dan Candil (Maca Dina Digital Library). Program ini merupakan salah satu program kerja 100 hari Gubernur Jawa Barat.

“Minat baca orang Indonesia cenderung rendah, orang kita tidak suka membaca

dan tidak suka menulis,” kata Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil saat meluncurkan Kolecer dan Candil di Taman Sempur, Jl. Sempur No. 1, Kota Bogor, Sabtu (15/12).

“Oleh karena itu, kita akan membuat hal itu berubah melalui sebuah gerakan literasi dimana semua pihak harus berpartisipasi,” lanjutnya.

Emil, sapaan akrab Ridwan Kamil menambahkan, Kolecer dan Candil juga diharapkan bisa meningkatkan minat baca generasi milenial yang terkungkung gawai teknologi. Dimana di dunia maya banyak beredar informasi yang sulit diterka manfaat dan mudaratnya.

“Generasi milenial sekarang hasil surveinya lebih senang menghabiskan waktunya lewat handphone, sehingga ada kekhawatiran yang dibaca adalah hal-hal yang tidak bermanfaat karena seliweran juga informasi-informasi yang negatif,” jelas Emil.

Kolecer merupakan bantuan dana Corporate Social Responsibility (CSR) dari Bank bjb

. Untuk tahap awal, Kolecer akan disebar di 27 kabupaten/kota se-Jawa Barat dan 600 titik sebagai target 5 (lima) tahun ke depan. Sedangkan pembuatan aplikasi perpustakaan digital Candil, saat ini masih dalam tahap pengembangan dan dapat digunakan pada bulan Januari 2019.

“Saya titip kepada kepala daerah ini adalah investasi, suatu hari mereka yang terdampak oleh hal positif ini akan menjadi pemimpin yang sukses karena apa yang kita lakukan hari ini,” tutur Emil.

Melalui kreativitas, Kolecer ini bisa ditempatkan dimana saja di tempat berkumpulnya warga atau komunitas. Kalau di kampung atau desa, Kolecer bisa ditempatkan di balai desa. Sementara di daerah perkotaan bisa ditempatkan di trotoar dan taman.

“Jadikan perpustakaan itu tempat bermain warga, tempat berkumpul komunitas warga tapi dikelilingi oleh buku-buku,” pinta Emil.

“Dan saya himbau kepada kepala daerah tolong jadikan masyarakatnya pintar di segala level. Terjemahkan ini dalam sebuah kebijakan,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Perpustakaan Nasional Muhammad Syarif Bando yang turut hadir pada acara peluncuran ini, menyatakan kesiapannya untuk bersinergi dengan Jawa Barat terkait penyelenggaraan kegiatan kepustakaan.

“Kami sangat mendukung dan senang dengan program ini. Akhirnya kita menemukan pemimpin yang ingin mendekatkan buku dengan masyarakatnya,” ujar Syarif.

“Kami siap bersinergi dengan Jawa Barat,” tandasnya.

Syarif menjelaskan, substansi literasi itu ada empat. Pertama, adalah kemampuan mengumpulkan sumber bahan bacaan agar masyarakat mendapatkan apa yang seharusnya mereka dapatkan untuk menyelesaikan suatu masalah.

“Ini langkah pertama tingkatan literasi,” terangnya.

Kedua, adalah kemampuan memahami apa yang tersirat dari apa yang tersurat. Hal ini bisa mengantarkan masyarakat dalam memahami sesuatu agar cerdas, sehingga tidak tertipu dan dibodohi.

“Yang ketiga, kemampuan dalam menemukan gagasan baru, ide baru, teori baru, dan kemampuan untuk memecahkan masalah,” papar Syarif.

Keempat, subtansi dari literasi yaitu kemampuan suatu negara untuk menciptakan barang dan jasa. Jadi, untuk membedakan antara negara maju dan terbelakang bisa terlihat dari tingkat kegemaran masyarakatnya dalam membaca.

“Perbedaan tingkat kegemaran suatu negara dalam membaca akan menyebabkan tingkat perbedaan dalam kemampuan literasi. Dan tingkat kemampuam literasi itulah yang akan membedakan tingkat kemampuan dalam memproduksi barang dan jasa. Dan dari hasil perbedaan kemampuan menciptakan barang dan jasa itulah perbedaan antara negara maju dan modern,” tandasnya.

Pada acara peluncuran ini, dilakukan pula pelantikan Bunda Literasi Kota Bogor Yanne Ardian oleh Bunda Literasi Jawa Barat Atalia Praratya, serta penandatanganan kesepakatan bersama tentang Penyelenggaraan Urusan Perpustakaan antara Gubernur Jawa Barat dengan Bupati/Walikota di Jawa Barat.

 

Baca Juga :