Unair Siapkan Skema Kemudahan untuk Mahasiswa Berprestasi

Dugaan Plagiat Rektor Unnes, Kampus Diminta Investigasi Internal

Dugaan Plagiat Rektor Unnes, Kampus Diminta Investigasi Internal

Unair Siapkan Skema Kemudahan untuk Mahasiswa Berprestasi

Unair Siapkan Skema Kemudahan untuk Mahasiswa Berprestasi

Saratri Wilonoyudho, Dosen Universitas Negeri Semarang (Unnes) angkat bicara

terkait isu dugaan plagiarisme oleh Rektor Unnes Fakthur Rohman yang ia angkat ke permukaan. Menurutnya, ia tak bermaksud menyinggung sosok tertentu melalui postingan di Facebook-nya.

Saratri mengatakan, sudah menjadi menjadi rutinitasnya menuangkan unek-uneknya yang berkaitan dengan berbagai macam hal di sosial media. “Monggo dinilai sendiri, kan saya nulis seperti demokrasi secara umum, pemerintahan, kekuasaan, sehingga kalau ada pihak yang tersinggung, semuanya kena,” ujarnya saat dihubungi, Selasa (3/7).

Lebih lanjut, ia juga membantah apabila postingannya tersebut sebagai salah satu upaya menjatuhkan Fakthur. Terlebih saat ini Fakthur tengah maju sebagai calon petahana pemilihan rektor Unnes.

Pembelaannya tersebut, bagaimanapun tak bisa menghindarkan dirinya dari sidang Majelis Profesor. Sebagaimana diketahui ia telah diadili pada sidang etik atas dugaan menyindir sang rektor. Dia disidang oleh 20 profesor di Unnes di Ruang Rapat Senat Universitas Gedung H Lantai 4, Kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang, awal Juni lalu.

“Saya tak bermaksud menyinggung individu tertentu,

tapi kalau tersinggung ya berarti ada sesuatu yang mungkin dia merasa. Tapi saya tidak berniat ke situ,” sambungnya.

Meski begitu, ia tak menampik bahwa dirinya sengaja membawa bukti artikel yang ditulis oleh Fathur Rokhman berjudul, Kode Bahasa dalam Interaksi Sosial Santri: Kajian Sosiolinguistik di Pesantren Banyumas terbitan Jurnal Penelitian Bahasa, Sastra dan Pengajaran (Litera) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Volume 3 Nomor 1 Tahun 2004.

Artikel karya rektor Unnes itu kemudian dikatikan dan disebut menjiplak milik Anif Rida dengan judul Pemakaian Kode Bahasa dalam Interaksi Sosial Santri dan Implikasinya bagi Rekayasa Bahasa Indonesia: Kajian Sosiolinguistik di Pesantren Banyumas, yang terbit dalam prasidang Konferensi Linguistik Tahunan Atma Jaya (Kolita) Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta tahun 2003.

“Saya kan hanya sekedar mengetes keseriusan majelis etik

. Kalau memang serius, ya siapapun, saya tak menunjuk individu ya, harus diperiksa. Kalau tidak ya apa gunanya komisi etik, kalau hanya memilih satu dua orang, yang tidak disenangi diperiksa, yang disenangi tidak,” imbuhnya.

Kembali ke masalah dugaan plagiarisme tadi, ia pun mengharap pihak kampus segera memberikan klarifikasi agar hal ini tak terus menjadi bola liar. Dalam artian melakukan pembuktian dengan cara mengadakan investigasi secara internal.

“Hal-hal yang perlu klarifikasi ya diklarifikasi. Misalnya Plagiasi. Plagiasi itu kan belum tentu yang bersangkutan bersalah. Oleh sebab itu diperiksa, ditentukan salah atau tidak,” ucapnya.

Sebelumnya, isu dugaan plagiarisme oleh Rektor Unnes Fakthur Rohman naik ke permukaan usai dihembuskan oleh salah satu dosennya, Saratri Wilonoyudho pasca dirinya diundang pada sidang Majelis Profesor Juni lalu.

Saratri yang sedianya hendak dimintai klarifikasi soal postingannya di sosial media mengenai perilaku seorang akademisi yang seharusnya menghindari tindakan plagiarisme, karena diduga menyindir rektornya. Malah menunjukkan artikel milik Fakthur yang diduga menjiplak hasil karya seseorang.

 

Baca Juga :