Pengertian Murid Cerdas dan Berbakat

Pengertian Murid Cerdas dan Berbakat

Pengertian Murid Cerdas dan Berbakat

Pengertian Murid Cerdas dan Berbakat

Pengertian Murid Cerdas dan Berbakat

 

Sebutan lain bagi anak berbakat ialah kecerdasan, cemerlang, kreatif

 

Semua sebutan ini merujuk adanya keunggulan kemampuan yang dimiliki seseorang. Jadi bakat adalah sesuatu yang “ inherent (melekat)” dalam diri seseorang, dibawa sejak lahir dan terkait erat dengan struktur otak. Secara genetis struktur otak itu sangat ditentukan oleh interaksi antara lingkungan dengan anak manusia itu.  Kemampuan intelektual merupakan ekspresi dari apa yang disebut intelegensi dan kepada kemampuan intelek ini juga kita bersandar menguasai dan memperlakukan perubahan kebudayaan serta pembaharuan teknologi di dalam masyarakat. Intelegensi meruapakan sifat-sifat manusia yang mencakup kemampuan untuk pemahaman hubungan yang kompleks.

Satu ciri yang umum dimiliki oleh anak berbakat ialah memiliki kecerdasan yang lebih tinggi daripada anak normal. Pada mulanya tingkat kecerdasan dipandang sebagai satu-satunya ciri anak berbakat. Pandangan ini disebut pandangan berdimensi tunggal tentang anak berbakat. Umumnya anak ini disebut berbakat jika memilki IQ diatas 120, sedangkan anak yang memilki IQ 137 ke atas disebut anak berbakat tinggi.

Undang-undang No. 2/1989 pasal 8 ayat (1) dan (2) menyatakan bahwa :

1)      Warga Negara yang memiliki kelainan fisik dan atau mental berhak memperoleh pendidikan luar biasa

2)      Warga Negara yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa berhak memperoleh perhatian khusus

Para ahli dengan hasil penelitiannya (Berry 1980) menunjukkan bahwa secara biologis memang ada perbedaan struktur otak antara anak-anak cerdas dan berbakat dengan anak normal. Anak berbakat mampu memfungsikan kedua belahan otak kiri dan otak kanan sebagai alat berfikir dan seluruh fungsi lain sehingga mewujudkan perilaku kreatif.

 

Kebutuhan dan Karakteristik Murid Cerdas dan Berbakat

Perbedaan program pendidikan murid cerdas dan berbakat dengan anak biasa bukan sekedar berbeda, tetapi secara kualitatif memang harus berbeda. Clark( 1983) mengemukakan secara kualitatif  anak murid cerdas dan berbakat menunjukkan karasteristik yang berbeda dari anak normal dalam aspek kognitif, afektif, sensasi fisik, intuisi, dan kemasyarakatan. Dalam upaya mengembangkan model program pendidikan yang kondusif bagi anak murid cerdas dan berbakat, perlu dilakukan analisis kebutuhan dan permasalahan perkembangan yang mungkin muncul dari aspek-aspek yang disebutkan di atas serta implikasinya bagi pengembangan program pendidikan.

 

Perkembangan fisik

Apabila perkembangan intelektual lebih cepat daripada perkembangan fisik, maka anak akan merasa tidak adekuat secara fisik, sementara jika tuntutan fisik kurang menantang secara intelektual akan menjadikan anak berbakat kurang tertarik dan tidak akan memperoleh kepuasan melakukan kompetisi di dalam kelompok sebaya. Anak berbakat mungkin pula menunjukkan aktivitas fisik yang berlebihan, atau dia menghindari keterlibatan dirinya dalam aktifitas fisik dan hanya membatasi diri pada aktivitas mental.

Melihat karakteristik dan kebutuhan fisik anak berbakat, maka program pendidikan bagi mereka selayaknya mempertimbangkan kebutuhan untuk melakukan aktivitas yang memungkinkan terjadinya integrasi dan asimilasi data sensoris, apresiasi kapasitas fisik, menjelajahi aktivitas fisik yang menimbulkan kesenangan kepuasan, menjelajahi aktivitas yang mengarah pada keterpaduan antara pikiran dan badan.

 

Perkembangan Kognitif

Para ahli dengan hasil penelitiannya (Thompson, Berger, Berry, 1980: Krech, 1969; Mac Lean, 1979) menunjukkan secara biologis ada perbedaan sturktur otak antara anak berbakat dengan anak normal. Anak berbakat menggunakan kedua belahan otak kiri dan kanan sebagai alat berpikir dan seluruh fungsi-fungsi lain (rasa, pendirian, dan intuisi) secara terintegritas sehingga mewujudkan perilaku kreatif.

Perspektif dan kecermatan anak berbakat seringkali menimbulkan kebimbangan diri, sehingga seringkali anak berbakat tidak mampu bekerja rapi dan teratur. Perkembangan kognitif anak berbakat disertai dengan perkembangan kemampuan intuitif yang akan mengarah kepada pemunculan perilaku kreatif. Kreativitas adalah ekspresi tertinggi dari keberbakatan. Kaitan intuisi dengan perilaku kreatif ialah fungsi intuisi berperan dalam pemunculan inisiatif, imajinatif, dan wawasan bertindak yang mengarah kepada perilaku kreatif.

Keunikan intuisi anak berbakat ditandai dengan kecenderungan untuk terlibat dan peduli terhadap pengetahuan intuitif dan fenomena-fenomena metafisik, terbuka terhadap pengalaman-pengalaman metafisik, dan menunujukkan perilaku kreatif dalam banyak hal. Karena kekuatan imajinasi yang luar biasa, anak berbakat mungkin akan menunjukkan perilaku yang sulit untuk diterima kelompoknya sehingga bisa menimbulkan tidak akan mendapatkan tanggapan serius dari orang lain yang lebih tua usianya karena dipandang berperilaku aneh, menyimpang, dan dianggap sebagai pembuat kekacauan.

 

Baca Juga :