Guru Semar

Guru Semar

Guru Semar

Kisah ponokawan atau punakawan didalam tokoh pewayangan dapat menjadi ide bagi kita. Ponokawan. Pono yang artinya enlighting atau mencerahkan, tetapi Kawan artinya sejumlah empat (4). Sehingga Ponokawan dapat diambil kesimpulan sebagai 4 orang yang menginspirasi atau mencerahkan. Ponokawan didalam pewayangan sering disebut wulu cumbu. Wulu cumbu letaknya berada di kaki dan di depan. Hal selanjutnya punyai filosofi bahwa idealnya didalam hidup ini dikala kami didalam melangkah yang dikedepankan adalah Ponokawan.

Guru Semar

Ponokawan yang digawangi oleh Bagong, Gareng, Petruk, dan Semar punyai cii-ciri yang berbeda-beda. Tokoh yang pertama yakni Bagong, ia senantiasa bersikap naïf didalam hidupnya. Kedua adalah Gareng, ia bersikap skeptis. Ketiga, Petruk, ia senantiasa easy going atau take it easy didalam menyikapi masalah. Keempat adalah Semar, ia berperan sebagai moderator.

Bagong senantiasa bersikap naïf, seandainya dikala menanggapi sebuah problem ia senantiasa naïf, contoh ‘guru kok mencabuli muridnya, ora pantes’. Bagong bakal mengkritisi hal-hal yang berlangsung disekitarnya bersama naïf. Gareng senantiasa bersikap skeptis, ‘kalau bukan kepala sekolah, siapa kembali yang dapat menyelamatkan muka sekolah?’. Petruk senantiasa enjoy atau take it easy, dikala didalam sebuah percakapan yang serius, terkadang Petruk tiba-tiba membelokkan arah percakapan seandainya menanyakan tentang skor akhir Manchester city vs Machaster united yang berlangsung tadi malam. Jadi apa yang dijalankan sebagai pencair situasi sehingga tidak bosan dan terlalu fokus pada persoalan yang hendak dipecahkan, sekali-kali refresh diri bersama bercanda. Semar berperan sebagai moderator bagi ketiga sikap tokoh diatas. Kapan sikap-sikap yang ada pada Bagong, Petruk, dan Gareng itu dimunculkan bakal diatur oleh Semar.

Dalam diri seorang guru, selayaknya kami dapat memunculkan Ponokawan ini, sehingga hidup tidak stres dan seimbang. Kadangkala Bagong kami munculkan bersama bersikap naïf, kadang Gareng bersama sikap skeptisnya, dan Petruk kami menggunakan sikapnya yakni take it easy didalam hadapi masalah. Sehingga hidup ataupun situasi belajar bersama peserta didik maupun bersama kawan sejawat di sekolah menjadi dinamis dan tidak membosankan, ketiga potensi sikap selanjutnya ada didalam diri tiap tiap orang tak kalau guru.

Di era sekarang, justru yang banyak terlihat atau yang sering dipakai sikapnya oleh penduduk Indonesia kenapa sikap Bagong? Kenapa pula kadang banyak sikap yang terlalu mendominasi adalah sikap Gareng yang skeptis?, Jawabannya adalah itu sebab Semar tidak cukup bekerja. Semar yang melakukan tindakan selaku moderator kemunculan sikap selanjutnya tidak bekerja sebagaimana mestinya. Semar belum pintar mengatur keseimbangan kemunculan sikap-sikap selanjutnya sehingga tidak ada yang terlalu mendominasi melainkan seimbang.

Semar didalam pewayangan ini dianggap sebagai tokoh yang satu-satunya orang yang sembahyangnya tanpa pas (bukan 5 kali sehari, bukan tiap minggu). Akan tetapi sembahyangnya adalah tiap tiap saat, tiap tiap detik, dan air wudhunya bukan air bakal tetapi amal perbuatan dia. Doa semar hanya satu yakni menerima kasih.

Guru yang sejati adalah guru yang dapat mempekerjakan Semar bersama sebaik mungkin, dapat mengatur selanjutnya lintas sikap-sikap yang ada pada diri manusia yakni naïf, skeptis, dan easy going. Ketiga potensi selanjutnya bakal berseliweran dan berpeluang muncul. Ketika Semar sudah menjadi cii-ciri pribadi guru maka guru selanjutnya bakal bekerja sebagai guru sejati atau guru Semar. Guru yang dinantikan tiap tiap peserta didik bunyi derap langkahnya dikala menuju ruang-ruang kelas untuk belajar bersama. Sudahkah kamu menjadi guru Semar?